Tamu Terakhir

Imam
saya orang Muslim ngawi yang kurang simpatik pada Partai Keadilan Sejahtera, boleh kan gabung
Lanjut

Polls

Menurut anda bagaimana peran Fosmawi?
 

Login






Lupa Kata Sandi?
Belum memiliki akun? Daftar

Who's Online

Saat ini adai 5 tamu-tamu online
Home
Dec 03 2008
SEBUAH INGATAN TENTANG HARAP YANG TELAH DISEMAI PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Fathim   
Wednesday, 03 December 2008

Assalamu’alaikum Khodijah masa dpan,  lagi aktifitas apa, nih? Abah yakin lg manage amal kebajikan, abah doain succes for anti, you can be anything and make changes.

 

Sebuah SMS yang unik  tanpa saya duga mampir di HP. SMS yang saya yakin  dikirimkan bukan secara kebetulan. Ya! Bagaimana mungkin harapan dan doa tulus seorang pendidik adalah sebuah kebetulan? Saya terharu membacanya. Sebuah prasangka yang baik --bahwa saya masih senantiasa merenda kebaikan-- membuat saya tertegun beberapa saat. Sebuah doa bahwa saya bisa menjadi apa saja yang saya cita-citakan begitu tulus saya rasakan.

 

 Sungguh, rasanya tak cukup bila hanya ucapan terimakasih yang saya sampaikan buat Abah, seorang yang telah mengobarkan kembali bara semangat yang sempat redup. Saya juga ingin membaginya untuk siapa saja yang sedang tertatih dalam mewujudkan asanya. Setidaknya, hari ini saya tak lagi terjebak dalam keputusasaan. Bukankah putus asa tak selayaknya menjadi sifat seorang muslim?

 

Saya baca SMS dari Abah ketika saya merasa terpuruk. Istighfar pun terlantun, beriring syukur yang tiada bertepi. Tiada hadiah yang lebih indah dibandingkan harapan tulus dan doa dari seseorang yang mencintai kita hanya karena Allah.

 

Saya kumpulkan kembali fragmen-fragmen bersama Abah dan teman-teman masa SMP. Wajah-wajah teduh mereka masih begitu lekat. Sudah berbilang tahun masa itu terlewati. Lama sekali kami tidak berjumpa sebagaimana perjumpaan kami tiap pekan di masa itu. Ya! Sudah lama meskipun beberapa diantaranya masih saya jumpai di lingkungan kampus.

 

Saya mulai menghitung...

 

20 Agustus 1999.

Saya kembali tertegun. Ternyata sudah lebih 9 tahun saya terjebak. Saya menyebut jebakan itu sebagai lingkaran cinta. Dan tanpa saya sadari, semua mengalir begitu saja tanpa pergolakan yang berarti. Semua berjalan secara alami. Sungguh, di masa itu saya tak sadar bahwa sebenarnya  ada mega proyek di balik acara pekanan kami.

 

Bersyukur kepada-Nya atas nikmat iman dan Islam. Bagaimana jadinya bila masa pencarian jati diri saat itu berada di lingkungan yang kurang baik?

JJJJ

 

Kunjungilah saudaramu karena cinta Ilahi

Bagilah cinta itu bersama dengan kasih-Nya

Jika ada rindu maka berdoalah pada-Nya

semoga kerinduan itu akan banyak menolong

Kala dirimu jauh dari tangan-tangan hamba-Nya (Suara Persaudaraan)

 

Dulu, setiap kali ditanya rencana pasca kuliah, saya selalu meyakinkan diri bahwa saya akan pulang kampung. Saya berharap akan segera bisa pulang dan turut berjuang sekuat daya membangun kampung halaman tercinta. Saya juga ingin membersamai adik-adik di Ngawi, menemani mereka dalam masa pencarian jati diri. Ya! Seperti halnya dulu, kami pun ditemani oleh wajah-wajah teduh yang tulus menunjukkan jalan kebaikan.

 

Tiap kali melihat siswa berseragam SMA, kenangan masa remaja yang penuh warna pelangi itu kembali hadir. Saya selalu ingin pulang. Bagi saya, kecintaan terhadap tanah kelahiran adalah cinta yang tak akan pupus oleh waktu. Namun, saya juga sadar: bumi Allah begitu luas. Dan di mana pun kita berada, ladang untuk menanam kebajikan begitu luas terbentang. Begitu banyak cara untuk bersama-sama menuju cahaya.

 

Rindu kampung halaman membuncah lagi. Rindu yang mengingatkan saya akan harap yang telah disemai. Rindu yang mengantar saya untuk berusaha (kembali) meluruskan dan menjaga niat sebagai bagian dari orang-orang yang berjuang menegakkan syari’at-Nya. Rindu yang menuntut saya untuk memperbanyak bekal dalam menggapai cita tertinggi di jalan-Nya.

 

Rindu yang membuncah, menyadarkan saya betapa indah persaudaraan yang terjalin karena kecintaan kepada-Nya. Saya bersyukur atas kebersamaan yang pernah ada. Sungguh indah kebersamaan itu. Kebersamaan bersama teman-teman di Ngawi, tempat saya mulai merajut mimpi.

 

Akhirnya, selamat berjuang...! Sungguh saya mencintai kalian karena Allah.

Lalung permai, 26 November 2008

Kangen  Bunda di rumah

  

 

 

 

Terakhir Diperbaharui ( Saturday, 13 December 2008 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >